Tidur Nyeyak Berperan Penting Menghilangkan Toxic Protein Penyebab Alzheimer

141

Untuk pertama kalinya, para ilmuwan telah menunjukkan bagaimana otak menyapu protein beracun selama fase tidur nyenyak. Studi ini didasarkan pada bukti yang menunjukkan bahwa gangguan tidur kronis dapat berperan dalam timbulnya Alzheimer dan demensia.

Pada tahun 2012, tim ilmuwan dari University of Rochester menemukan sistem yang digunakan otak untuk menghilangkan akumulasi sampah di jaringan otak. Disebut “sistem glymphatic,” terungkap bahwa otak secara sporadis memompa cairan tulang belakang melalui jaringan otak, pada dasarnya membuang limbah yang merusak ke dalam sistem peredaran darah tubuh. Pekerjaan lebih lanjut oleh tim mengungkapkan proses ini terutama terjadi selama tidur, menawarkan mekanisme untuk menjelaskan alasan penting lainnya bahwa hampir setiap makhluk hidup memerlukan tidur.

Penelitian terbaru lainnya adalah ditemukannya hubungan yang signifikan antara gangguan pola tidur dan perkembangan demensia serta penyakit Alzheimer. Studi terbaru mengenai jenis ini menemukan korelasi spesifik antara rendahnya tingkat tidur gelombang lambat dan akumulasi protein beracun yang lebih besar di otak yang umumnya terkait dengan Alzheimer.

Dalam pencarian pemahaman kausal yang lebih jelas tentang hubungan aneh antara gangguan tidur dan demensia ini, sebuah studi baru dilakukan untuk mengidentifikasi apakah ada fase tidur tertentu yang secara khusus terhubung dengan aktivitas sistem glymphatic yang membersihkan otak. Untuk memeriksa ini, para peneliti menggunakan enam rejimen anestesi yang berbeda pada tikus untuk merangsang berbagai keadaan saraf yang dibius.

Dari enam keadaan yang diinduksi obat, satu keadaan khususnya menghasilkan aktivitas saraf dan detak jantung yang paling mirip dengan manusia dalam tidur gelombang lambat yang dalam, non-REM. Keadaan tidur khusus ini juga menghasilkan aktivitas sistem glymphatic terbaik dan, bahkan yang lebih penting, menyarankan mekanisme saraf yang dapat menjelaskan mengapa fase tidur tertentu ini dapat merangsang proses pembersihan otak.

“Gelombang aktivitas saraf yang tersinkronisasi selama tidur gelombang lambat yang dalam, khususnya pola penembakan yang bergerak dari depan otak ke belakang, bertepatan dengan apa yang kita ketahui tentang aliran CSF dalam sistem glymphatic,” jelas Lauren Hablitz, penulis pertama dari penelitian. “Tampaknya bahan kimia yang terlibat dalam penembakan neuron, yaitu ion, mendorong proses osmosis yang membantu menarik cairan melalui jaringan otak.”

Sementara penelitian ini bukan senjata tunggal yang menawarkan koneksi antara kurang tidur dan Alzheimer, itu memang menambah bobot argumen bahwa gangguan tidur kronis dapat mendorong timbulnya penyakit. Pengamatan klinis telah mengungkapkan hubungan yang solid antara demensia dan gangguan tidur, tetapi masih belum dapat dibuktikan apakah tidur yang buruk menyebabkan penyakit atau hanya konsekuensi.

Jika penelitian lebih lanjut dapat secara efektif memverifikasi proses glymphatic sleep gelombang lambat ini sebagai membersihkan protein toksik dari otak manusia, maka terapi tidur berpotensi menjadi pendekatan klinis yang efektif untuk memperlambat timbulnya demensia pada pasien yang berisiko terkena penyakit tersebut. Studi baru ini tentu saja menyimpulkan bahwa tidak semua tidur sama dan kurangnya tidur nyenyak kronis bisa menjadi salah satu elemen pendorong penurunan neurologis terkait usia.