Search

“Smart City” ala Leonardo da Vinci

91

Seniman besar Leonardo da Vinci dikenal sebagai seorang genius. Ia menggabungkan pengetahuan ilmiah, bakat artistik, dan kepekaan humanis. Ia bukan hanya seorang pelukis seperti yang kebanyakan kita tahu lewat karya “Mona Lisa” dan “The Last Supper”, namun juga seorang pemahat/pematung, arsitek, penemu, penulis, filsuf dan musisi. 500 tahun telah berlalu sejak Leonardo meninggal dunia pada tanggal 2 Mei 1519, karya dan buah pemikirannya tetap dianggap menakjubkan sampai pada abad ini.

Abad Renaissance menandai transisi dari abad pertengahan menuju abad moderen, setelah tragedi wabah yang menyebabkan krisis global, dengan dampak 200 juta kematian di seluruh Eropa dan Asia. Dalam kaitannya dengan saat ini, dunia berada di puncak krisis iklim, yang diprediksi akan menyebabkan perpindahan, kepunahan, dan kematian yang meluas, jika dibiarkan tidak terselesaikan.

Sekitar tahun 1486 – setelah wabah yang menewaskan setengah populasi di Milan – Leonardo mulai memikirkan masalah perencanaan kota. Mengikuti tren Renaissance yang khas, ia mulai mengerjakan proyek “kota ideal”, yang – karena biayanya yang berlebihan – tidak terwujud. Meskipun Renaissance terkenal sebagai era kemajuan luar biasa dalam seni dan arsitektur, jarang dicatat bahwa abad ke-15 juga menandai kelahiran perencanaan kota.

Sebagian catatan dalam Codex Atlanticus

Orang-orang Renaisans terkemuka kemudian mendorong proyek-proyek perkotaan berskala besar di Italia, seperti rekonfigurasi Pienza, perluasan Ferrara dan pembangunan benteng kota Palmanova. Karya-karya ini tentu mengilhami keputusan Leonardo untuk memikirkan desain ulang kota abad pertengahan, yang memiliki jalan berliku, dan penuh sesak dengan rumah-rumah yang tampak bertumpuk satu sama lain.

Tidaklah mudah untuk mengidentifikasi visi dari kota ideal Leonardo karena caranya yang tidak teratur dalam membuat catatan dan sketsa. Tetapi dari beberapa sumber termasuk naskah Paris B dan Codex Atlanticus (kumpulan gambar dan tulisan Leonardo bervolume dua belas jilid), serangkaian pemikiran inovatif dapat direkonstruksi.

Leonardo menginginkan kota yang nyaman dan luas, dengan jalanan dan arsitektur yang tertata dengan baik. Ia merekomendasikan “tembok yang tinggi dan kuat”, dengan “menara dan benteng”, juga “keagungan dan keindahan kuil suci” serta “komposisi nyaman rumah pribadi”.

Rencana Leonardo untuk kota yang “modern” dan “rasional” konsisten dengan cita-cita Renaisans. Tetapi, sesuai dengan kepribadiannya yang tidak konvensional, Leonardo memasukkan beberapa inovasi dalam desain perkotaannya. Leonardo ingin kota itu dibangun di atas beberapa tingkat, yang dihubungkan dengan tangga vertikal. Desain ini biasa kita lihat pada gedung-gedung zaman ini, tetapi pada zaman itu ide ini sama sekali tidak konvensional.

Idenya untuk menempatkan tangga yang berkesinambungan di sisi luar bangunan tidak diadopsi sampai tahun 1920-an dan 1830-an, dengan lahirnya gerakan Moderenis. Orisinalitas visi Leonardo adalah perpaduan arsitektur dan teknik. Ia berpikir bahwa lebar jalan harus sesuai dengan ketinggian rata-rata rumah-rumah yang berdekatan: aturan ini masih diikuti di banyak kota kontemporer di Italia, untuk memungkinkan akses ke sinar matahari dan mengurangi risiko kerusakan akibat gempa bumi.

Meskipun beberapa fitur ini ada di kota-kota Romawi, sebelum desain Leonardo, tidak pernah ada kota modern dengan sistem bertingkat yang dapat dipahami secara teknis. Beberapa idenya pada saat itu memang diterapkan, misalnya, pembagian kota berdasarkan fungsi – dengan layanan dan infrastruktur yang terletak di tingkat yang lebih rendah dan jalan-jalan serta trotoar yang luas dan berventilasi baik – adalah sebuah gagasan yang dapat ditemukan dalam renovasi Haussmann di Paris di bawah kekuasaan Kaisar Napoleon III.

Perlu menunggu bahkan hingga abad ke-20 untuk melihat ide-ide yang sama terwakili di kota vertikal para arsitek futuris, atau di kota Hilbeseimer atau Le Corbusier – serta dalam kisah distopia seperti Fritz Lang’s Metropolis dan Philip Dick’s Blade Runner. Tentu saja, menciptakan kota dengan tingkat yang berbeda membuka kemungkinan kesenjangan yang lebih besar antar penduduk kota.

Pada era ini, ide-ide Leonardo tidak hanya valid – namun juga merujuk langsung pada suatu perencanaan kota. Banyak sarjana berpendapat bahwa kota padat huni – dibangun ke atas dan bukan ke luar, terintegrasi dengan alam (terutama sistem air) dengan infrastruktur transportasi yang efisien – sehingga dapat membantu kota modern menjadi lebih efisien dan berkelanjutan. Ini merupakan alasan lain mengapa Leonardo sangat dekat dengan perencanaan kota moderen – berabad-abad sebelumnya.

Sumber : www.weforum.com




Perkembangan zaman yang semakin modern ditambah dengan teknologi yang terus maju membuat kebutuhan laptop bagi pelajar saat ini tidak dapat dipungkiri. Berikut 5 daftar spesifikasi laptop dengan Harga laptop terbaru. Read More...