Saatnya Indonesia Menggalakan Pajak Gula Untuk Minuman Manis

163

Obesitas dan diabetes dulunya merupakan first world problem. Tetapi kini, permasalahan diet di negara-negara berpenghasilan rendah sedang bergeser. Semakin banyak orang makan produk olahan dan makanan yang tinggi garam, gula, serta lemak jenuh. Hal ini berdampak pada  obesitas, diabetes, penyakit jantung dan stroke yang menjadi masalah kesehatan nomer satu di negara-negara berpenghasilan menengah, termasuk Indonesia.

Tercatat di tahun 2018, sebanyak 35,4% orang Indonesia didiagnosis kelebihan berat badan atau obesitas. Sepuluh tahun sebelumnya, hanya lebih dari 5% hidup dengan diabetes. Sistem perawatan kesehatan Indonesia tidak memiliki kapasitas untuk mengatasi meningkatnya beban penyakit kronis ini.

Meningkatnya beban dikaitkan dengan peningkatan konsumsi gula Indonesia selama dekade terakhir, terutama dari minuman manis.

Indonesia merupakan pasar besar untuk minuman ringan dan minuman energi. Permintaan tumbuh sekitar 8-10% setiap tahun. Total penjualan diperkirakan mencapai US $ 12,9 miliar pada 2019 – yang berarti sekitar 39 liter per orang.

Pemerintah Indonesia telah mempertimbangkan memajaki minuman manis untuk mengatasi masalah kesehatan yang semakin meningkat. Sebuah studi baru-baru ini menunjukkan bahwa pajak dapat diterapkan dan akan bermanfaat secara ekonomi.

Dalam penelitian kami, yang diterbitkan di BMJ Global Health, kami mengembangkan sebuah model untuk memperkirakan berapa banyak manfaat yang bisa didapat dari minuman manis bergula di Indonesia.

Dari model ini, kami menemukan bahwa orang Indonesia yang lebih kaya akan mendapat banyak manfaat dari pengurangan risiko penyakit kronis, tetapi pada akhirnya seluruh penduduk akan menjadi lebih sehat.

Manfaat

Berdasar pada penelitian sebelumnya yang menunjukkan pajak minuman manis dapat membantu memperlambat pertumbuhan obesitas dan mengurangi penyakit kronis.

Model ini bertujuan untuk mengukur manfaat kesehatan jika pajak $ 0,30 per liter tersebar di seluruh kelompok berpendapatan di Indonesia.

Untuk melakukan ini, para ilmuwan akan melihat respons orang terhadap perubahan harga, termasuk apakah mereka beralih ke minuman lain yang tidak dikenai pajak. Ilmuwan juga melihat perubahan potensial pada kandungan energi di semua minuman, dan dampak pada pola penyakit dalam populasi.

Semua faktor ini diperkirakan berdasarkan kelompok pendapatan, dari 20% termiskin hingga 20% terkaya.

Dapat disimpulkan bahwa lebih dari 25 tahun pajak yang dibayarkan oleh orang-orang termiskin adalah $ 0,5 miliar, dan $ 15,1 miliar untuk orang terkaya.

Di Indonesia, kelompok berpenghasilan tertinggi menghabiskan sekitar 27 kali lebih banyak untuk minuman manis daripada yang kelompok berpenghasilan terendah. Ini karena orang yang lebih kaya lebih mampu membayar gaya hidup ini.

Model kami menunjukkan kasus kelebihan berat badan dan obesitas akan menurun sekitar 15.000 untuk orang-orang berpenghasilan rendah, tetapi turun 417.000 untuk yang tertinggi.

Demikian pula, 63.000 kasus diabetes dapat dihindari pada kelompok berpenghasilan rendah dan hingga 1.487.000 di tertinggi. Insiden penyakit jantung dan stroke juga berkurang.

Studi lain

Studi kasus kami di Indonesia menghasilkan hasil yang kontras dengan penelitian serupa di negara-negara kaya. Di negara-negara kaya, manfaat kesehatan seringkali lebih besar bagi orang miskin di dalam masyarakat. Ini karena mereka umumnya mengonsumsi lebih banyak makanan berkualitas rendah yang tinggi gula, lemak, dan garam.

Manfaat untuk semua

Organisasi Kesehatan Dunia dan PBB telah menjadikan pengurangan konsumsi gula berlebih sebagai sasaran kebijakan utama.

Banyak negara telah mulai mengenakan pajak minuman manis, termasuk Meksiko, Ekuador, Brunei, Vanuatu, Inggris, Portugal, India, Afrika Selatan, Arab Saudi, Filipina, Thailand dan Sri Lanka.