Perubahan Iklim, Polusi, dan Pertambahan Penduduk Menjadi Penyebab Pindahnya Ibu Kota Negara

416

Ibukota Indonesia, Jakarta, memiliki masalah lalu lintas pelik, yang dapat mengubah perjalanan jarak pendek menjadi neraka selama berjam-jam, belum lagi polusi udara mematikan, tempat pembuangan sampah terbesar di Asia Tenggara. Dan kini, masalah diperberat dengan adanya fakta perubahan iklim serta 10 juta orang mendiami salah satu kota yang bakalan paling cepat tenggelam di dunia ini.

Jakarta, yang dibangun di sebelah Laut Jawa dengan 13 sungai melintasi kota, tenggelam secepat 9 inci dalam setahun di beberapa titik. Masalahnya diperparah oleh ekstraksi air tanah tanpa izin, yang mengosongkan akuifer dan menyebabkan tanah runtuh. Saat ini, sekitar setengah kota berada di bawah permukaan laut. Pada tahun 2050, jika emisi tidak berkurang secara drastis, 95 % wilayah Jakarta Utara diperkirakan akan terendam.

Dalam rapat kabinet tertutup pada hari Senin, Widodo membuat keputusan untuk memindahkan cabang eksekutif dan kementerian terkait serta parlemen ke kota baru. Kota yang mana? Dia membuka diskusi di Twitter:

Presiden Joko Widodo bukan yang pertama kali menyarankan untuk merelokasi ibukota Indonesia. Pada tahun 1957, presiden pertama Indonesia, Sukarno, menyarankan hal itu juga. Sering kali, presiden tidak mengungkit masalah ini, sampai pada titik di mana penduduk Indonesia merasa skeptis bahwa langkah itu bakalan terlaksana. Dan banyak juga yang tidak yakin mereka menginginkannya.

“Anda tidak menyelesaikan masalah dengan hanya memindahkannya,” Elisa Sutanudjaja, direktur Pusat Studi Urban Rujak, mengatakan kepada The Guardian. “Jakarta sangat mirip dengan Tokyo pada 1960-an, dengan penurunan tanah, banjir, bencana alam, dan kepadatan penduduk. Jika Anda benar-benar ingin menyelesaikan masalah maka mereka harus mengatasinya, bukan hanya memindahkannya. ”

Jakarta telah mendekati titik kritis, dengan bencana alam seperti banjir pekan lalu yang meningkat secara teratur. Ketika populasi Jakarta terus bertumbuh, ekstraksi air dan perubahan iklim secara tidak langsung menarik Jakarta di bawah permukaan laut. Tenggelamnya kota megapolitan ini hanyalah tinggal masalah waktu.