Norton

Norton: 10% Masyarakat Indonesia Telah Menjadi Korban Cyber Crime

458

Penyedia layanan keamanan digital, Symantec, kembali membeberkan hasil survey tahunan mereka, Norton Cybersecurity Insight Report. Berdasarkan survey yang telah mereka lakukan sejak Februari 2015 hingga Januari 2016, diketahui sebanyak 25.452.463 masyarakat Indonesia telah menjadi korban dari tindak kejahatan digital.

Hasil survey yang mencengangkan tersebut dipaparkan di depan awak media pada hari Selasa (8/3), di Jakarta. Sebanyak 1000 orang Indonesia dengan rentang usia 18 tahun turut menjadi responden dari survey yang dilakukan Norton di 20 negara lainnya.

Norton

Chee Choon Hong, Director Asia Consumer Business Norton by Symantec tengah membuka hasil penelitian yang dilakukan Norton.

Chee Choon Hong, Director Asia Consumer Business Norton by Symantec mengatakan, “Indonesia dengan jumlah pengguna internet yang semakin meningkat, rupanya juga menghasilkan korban kejahat cyber yang besar. Sekitar 10% dari jumlah penduduk di Indonesia, mengaku telah menjadi korban dari cyber crime.”

Selain itu, 5 dari 10 responden (atau sekitar 55%) mengaku, lebih takut tercuri kartu kreditnya saat berbelanja online, dibandingkan saat berbelanja di retail offline. “Lebih dari setengah masyarakat Indonesia, sangat khawatir menggunakan kartu kredit mereka untuk berbelanja online. Mereka meyakini, kartu kredit akan lebih mudah tercuri saat digunakan secara digital,” jelas Choon.

Walaupun begitu, 36% reponden mengatakan, mereka berbagi password kepada koleganya. “Walau mereka takut menggunakan kartu kredit secara digital, namun cukup banyak dari mereka yang berbagi password pribadi kepada rekan ataupun keluarganya. Hal tersebut cukup mengejutkan bagi kami,” tegasnya. Dengan begitu, nampaknya tidak heran jika jumlah korban kejahatan digital di Indonesia menyentuh angka 25 juta orang lebih.

Tidak hanya kerugian finansial saja yang akan dirasakan oleh para korban cyber crime, melainkan kerugian waktu. “Mereka yang menjadi korban, tidak hanya dirugikan dari segi finansial. Waktu adalah hal yang turut mereka rasakan merugi. Pasalnya, setiap korban setidaknya menghabiskan waktu 33 jam untuk sedikit menetralisir dampak kejahatan digital, contohnya saja menghubungi kolega, pihak bank, ataupun pihak berwajib.”

Jika melihat dari total korban cyber crime di Indonesia, maka Norton memastikan jumlah kerugian yang diderita menyentuh angka 194.603,7 milyar Rupiah, dengan rata-rata Rp 7 juta perorangnya. “Kerugian finansial yang dirasakan korban cyber crime di Indonesia terbilang cukup besar. Nilai tersebut akan mencengangkan saat di rrata-ratakan,” terang Choon.

Sebagai anak perusahaan yang bergerak di bidang keamanan cyber, Norton yang diwakilkan Choon memberikan beberapa saran. “Tetaplah waspada. Jangan hanya percaya pada pengaman online Anda saja. Gantilah password Anda secara berkala, hal tersebut akan meminimalisir tindak kejahatan. Dan, jangan pernah berbagi password Anda kepada siapapun,” tuturnya.

“Hindari penggunaan kartu kredit ke hal-hal yang kurang penting. Dan tetaplah waspada saat menggunakannya, seperti di retailer, ecommerce, dan jaringan sosial. Dan terakhir, lindungi perangkat genggam Anda dengan anti virus atau security lainnya. Saat ini perangkat genggam adalah sasaran utama bagi para hacker,” saran Choon.




Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.