Media Sosial Mengubah Cara Ilmuwan Berinteraksi

327

Media sosial saat ini sudah menjadi wadah yang ‘seakan’ menjadi utama bagi sebagian orang untuk menyalurkan pendapatnya atau berinteraksi dengan orang lain. Tak jarang sebagian orang ini adalah orang-orang penting, seperti pejabat, artis, bahkan ilmuwan.

Kecepatan bersosial saat kehadiran media sosial ini mengalami kecepatan yang signifikan. Pada awal-awal perkembangan ilmu komunikasi, komunikasi memang hanya berkutat pada komunikasi massa yang dengan kata lain hanya ditujukan untuk kepentingan massa yang banyak. Namun, setelah berkembangnya teknologi, Ilmu Komunikasi lebih dari itu. Hal itu bermula saat perkembangan internet sudah merajalela seperti sekarang.

Media sosial menambah perkembangan ilmu komunikasi ini. Media sosial mulai dilirik oleh beberapa ilmuwan untuk menyebarkan ilmunya. Seperti yang dikatakan oleh mahasiswa PhD Univeristy of Connecticut, Sarah McAnulty, pada Engadget, perkembangan ilmu dalam komunikasi ini bisa dimanfaatkan oleh illmuwan untuk menyebarkan ilmunya kepada publik.

“Setelah pemilihan (pemilu di Amerika) saya merasakan bahwa ada kekuatan besar di komunitas (media sosial) ini, saya berfikir bagaimana kita bisa melakukan penyampaian penelitian kita kepada publik. Saya kira, kita butuh cara untuk mengikutsertakan ilmuwan, menggunakan komitmen waktu yang sedikit, namun memiliki dampak yang besar.” Kata Sarah pada Engadget.

Pada 2017, muncullah Skype a Scientist, sebuah website yang menghubungkan ilmuwan dari seluruh dunia dengan mahasiswa, guru, atau siapapun yang berminat dalam bidang tertentu melalui Skype. Pertemuan itu berlangsung selama 30 menit dalam sesi tanya jawab.

Namun, beberapa situs serupa hanya mendatangkan ilmuwan rekomendasi dari media-media seperti National Geographic atau Discovery Channel. Dengan perkembangan media sosial, Sarah berharap, bahwa ilmuan-ilmuan yang tidak mendapatkan rekomendasi bisa terlibat juga dengan menggunakan platform media sosial, seperti, Youtube, Twitter, bahkan Instagram.