Makanan Tinggi Lemak Menjadi Penyebab Depresi

86

Sebuah studi baru menarik yang dipimpin oleh para ilmuwan dari University of Glasgow, menunjukkan adanya hubungan sebab akibat antara makan makanan tinggi lemak dan perkembangan depresi. Penelitian baru menunjukkan bagaimana lemak tertentu dapat masuk ke otak, mengganggu jalur pensinyalan tertentu di hipotalamus, dan kemudian memicu tanda-tanda depresi.

Para ilmuwan telah lama mengamati korelasi yang kuat antara obesitas dan depresi, dan walaupun tampaknya keduanya hanya saling terkait melalui hubungan psikologis yang jelas, beberapa penelitian mulai menunjukkan bahwa hubungan tersebut sebenarnya didukung oleh mekanisme biologis.

Satu studi dari tahun 2018 menemukan bahwa tikus yang diberi diet tinggi lemak menunjukkan perilaku depresi sampai antibiotik yang mengubah mikrobiome mengembalikan perilaku mereka kembali normal. Studi ini menyimpulkan bahwa diet tinggi lemak dapat menumbuhkan populasi bakteri usus tertentu yang memiliki kapasitas untuk menginduksi perubahan neurokimia yang mengarah ke gejala depresi.

Studi baru ini bergerak menjauh dari penyelidikan khusus bakteri usus untuk memeriksa mekanisme neurologis apa yang bisa dipicu oleh diet tinggi lemak yang mengarah pada perkembangan depresi. Setelah penelitian awalnya memverifikasi bahwa obesitas baik yang disebabkan oleh pola makan maupun secara genetik menyebabkan perilaku seperti depresi pada model tikus, para ilmuwan memperbesar apa yang terjadi pada otak hewan untuk mendorong perubahan.

Selama beberapa waktu para ilmuwan telah mencatat bahwa pasien obesitas yang menderita depresi berespons buruk terhadap pengobatan antidepresan dibandingkan dengan pasien kurus. Penelitian ini menimbulkan hipotesis yang menarik, menunjukkan potensi generasi baru antidepresan yang secara khusus dapat menargetkan mekanisme neurologis ini dan memberikan obat baru yang efektif untuk pasien kelebihan berat badan atau obesitas yang menderita depresi berat.

“Kita sering menggunakan makanan berlemak untuk menghibur diri kita sendiri karena rasanya sangat enak, namun dalam jangka panjang, ini cenderung memengaruhi suasana hati seseorang secara negatif,” kata Baillie. “Tentu saja, jika Anda merasa down, maka salah satu cara untuk membuat diri Anda merasa lebih baik adalah memanjakan diri Anda dengan lebih banyak makanan berlemak, yang kemudian akan mengkonsolidasikan perasaan negatif.”

Studi ini juga menunjukkan hubungan antara obesitas dan depresi tidak sepenuhnya dua arah. Diet tinggi lemak dapat secara langsung menginduksi timbulnya gejala depresi. Studi pengamatan pada manusia sejauh ini memberikan kesimpulan yang beragam tentang apakah diet yang tidak sehat secara aktif menyebabkan depresi dan studi baru ini hanya menunjukkan mekanisme neurologis ini pada hewan.