Jumlah Tes Covid-19 di Indonesia Rendah, Akhir Pandemi Kian Tertunda?

16

Jumlah tes Covid-19 yang dilakukan di Indonesia hingga 1 Mei 2020 telah mencapai 76.538 tes. Kendati demikian, angka tersebut masih di bawah jumlah tes Covid-19 yang dilakukan oleh Vietnam, Singapura, Malaysia, dan Filipina, negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara.

Pada Jumat, 1 Mei 2020, dari data Kementerian Kesehatan yang dimuat di laman resmi Infeksi Emerging, Lifepal mencatat ada tambahan 4.187 tes dengan spesimen yang telah diperiksa, dengan jumlah kasus terkonfirmasi positif bertambah 433 orang. Sehingga kini, total jumlah kasus terkonfirmasi mencapai 10.551 orang. 

Jumlah tes tersebut menurun 8,3% dari jumlah tes yang dilakukan pada Kamis, 30 April yakni sebanyak 4.567 tes. Angka tes memang fluktuatif tiap harinya, seperti misalnya pada Rabu, 29 April, jumlah tes yang dilakukan mencapai 5.240, atau yang tertinggi kedua sejak tanggal 12 April di mana dalam sehari tercatat ada 7.293 tes yang dilakukan. 

Meskipun demikian, angka tersebut masih tergolong rendah apabila dibandingkan dengan Vietnam yang hingga 26 April 2020 sudah melakukan total 212.965 tes, atau Malaysia yang per 27 April sudah melakukan 138.898 tes. Kendati demikian, Indonesia masih unggul ketimbang Myanmar yang baru melakukan 6 ribuan tes per 26 April, serta Thailand yang baru melakukan 53 ribuan tes hingga 27 April.

Lantas apakah jumlah tes yang rendah maupun tinggi ini berdampak pada penanggulangan pandemi Covid-19? Mari kita simak pada poin bahasan selanjutnya.

Rasio tes Covid-19 di Indonesia masih rendah

Angka rasio tes Covid-19 di Indonesia adalah salah satu yang paling rendah di Asia Tenggara. Hingga 1 Mei, rasionya ada di angka 0,28 per 1000 orang. Artinya, per 1000 orang penduduk Indonesia, hanya ada 0,28 tes yang dilakukan. 

Meski mengalami peningkatan, angka rasio tersebut tidak berubah banyak dari beberapa hari sebelumnya. Rasio tersebut amat jauh dibandingkan dengan Singapura, di mana ada 17,08 tes yang dilakukan per 1000 orang per 27 April lalu. 

Namun, Myanmar masih di bawah Indonesia pula. Per 29 April, rasio tes Covid-19 di negara tersebut hanyalah 0,14 tes per 1000 orang penduduk.

Semakin banyak tes yang dilakukan, tentu semakin besar pula data kasus terkonfirmasi yang akan didapat. Sebab, semakin banyak jumlah tes, semakin besar pula sample orang yang status infeksinya diketahui. Jika makin banyak orang menjalani tes, makin akurat pula data jumlah orang yang terinfeksi.

Kemudian, jika kapasitas tes rendah, hal itu menunjukkan bahwa tes yang dilakukan hanyalah ditujukan bagi kelompok masyarakat yang punya risiko tinggi. Dengan kata lain, data orang-orang yang telah menjalani tes tidak mewakili populasi yang lebih besar di negara tersebut.

Indonesia hanya butuh 7,6 tes untuk deteksi 1 kasus Covid terkonfirmasi 

Riset yang dilakukan tim gabungan peneliti lulusan University of Oxford dan University of Edinburgh pada platform Our World in Data, mencatat jumlah tes yang dilakukan tiap negara untuk mendapatkan satu kasus terkonfirmasi positif Covid-19. Tim tersebut mengumpulkan data dari departemen kesehatan negara terkait, di mana untuk Indonesia didapatkan dari Kementerian Kesehatan, lewat laman Infeksi Emerging.

Dari data yang dihimpun, tercatat bahwa per 1 Mei, Indonesia butuh hanya 7,6 tes untuk mendeteksi satu kasus terkonfirmasi positif. Angka tersebut paling rendah di antara negara-negara di kawasan Asia Tenggara lainnya.

Sekilas, mungkin kita beranggapan bahwa rendahnya jumlah tes per kasus ini memperlihatkan bahwa Indonesia paling efektif dalam mendeteksi kasus Covid-19. Namun, hasil penelitian – bukan hanya Indonesia, namun juga negara-negara lain – menunjukkan bahwa kecilnya jumlah tes yang dilakukan untuk mendeteksi satu kasus ini sebagai fakta bahwa sejatinya negara yang bersangkutan belum melakukan tes dengan jumlah yang layak untuk mendapatkan gambaran jelas akan seberapa besarnya penyebaran virus ini.

Seperti kita tahu, kebanyakan tes polymerase chain reaction (PCR) untuk mendeteksi Covid-19 ini dilakukan terhadap orang-orang yang menunjukkan gejala-gejala terpapar Covid paling parah. Sementara itu, kenyataan di lapangan, banyak pula orang yang sudah terpapar namun hanya menunjukkan gejala-gejala ringan, bahkan tidak menunjukkan gejala sama sekali, atau yang biasa disebut sebagai orang tanpa gejala (OTG).

Jumlah tes tak segera ditambah, akhir pandemi makin melambat

Tanpa peningkatan jumlah tes yang memadai, maka akan makin lambat pula pandemi Covid-19 ini akan berakhir. Tes yang dilakukan hingga saat ini masih jauh dari target tes PCR 10.000 per hari yang ditargetkan Presiden Joko Widodo kepada Kementerian Kesehatan pada 13 April 2020 lalu. 

Namun, pemerintah bukannya tanpa upaya. Dalam konferensi pers Kamis 23 April, juru bicara nasional penanganan Covid-19 Achmad Yurianto mengatakan bahwa pemerintah akan mendatangkan total 400 ribu reagen PCR dari luar negeri, pada Jumat 24 April. Pemerintah, lanjutnya, akan mendistribusikan reagen tersebut ke 43 laboratorium yang saat ini aktif memeriksa spesimen Covid-19. 

Kurangnya tes yang dilakukan Indonesia bukanlah satu-satunya hal yang berpotensi memperpanjang akhir dari pandemi Covid-19 ini. Berbagai hal seperti penegakan social distancing, physical distancing, aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang dilakukan sejumlah provinsi, hingga pelarangan mudik di Lebaran kali ini  juga punya andil besar untuk segera mengakhiri pandemi ini. Semua tergantung pada niat, kerelaan, dan kedisiplinan seluruh lapisan masyarakat untuk bekerjasama guna mengatasi ini semua.