Objek katarsis! Dirancang untuk dipukul, ditusuk, bahkan disumpahi. Apa gunanya?

107

Salah satu pengertian kata katarsis dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia versi online adalah “cara pengobatan orang yang berpenyakit saraf dengan membiarkannya menuangkan segala isi hatinya dengan bebas”.

Ketika Anda harus berurusan dengan emosi negatif, khususnya rasa marah, kadang tanpa disadari Anda akan melampiaskan amarah Anda pada benda atau bahkan orang lain, bukan? Entah hanya dengan sindirian halus, atau sampai kepada tantangan berkelahi.

Seperti yang dilansir website Engadget – Berawal dari suatu pemahaman bahwa menghadapi emosi negatif secara langsung adalah baik untuk seseorang, para peneliti di Universitas Carnegie Mellon kemudian menciptakan “objek-objek katarsis” yang dirancang untuk dipukul, ditusuk, dan disumpahi.

Dipimpin oleh peneliti Michael Luria dan rekan penulis Amit Zoran dan Jodi Forlizzi, tim peneliti mempresentasikan makalah mereka tentang objek-objek katarsis pada Konferensi CHI 2019 tentang “Faktor Manusia dalam Sistem Komputasi” yang diadakan bulan ini di Glasgow,
Skotlandia.

Luria dan timnya menciptakan empat objek katarsis yang dirancang untuk menangani berbagai emosi dan perilaku. Objek pertama tampak seperti boneka yang akan tertawa menjengkelkan, dan hanya berhenti setelah dipukulkan pada suatu permukaan yang keras. Objek lain memungkinkan pengguna untuk menulis pesan pribadi pada ubin keramik dan kemudian dihancurkan dengan menggunakan palu. Saat ubin pecah, objek mulai memancarkan cahaya dan suara.

Objek 1
Objek 2

Objek berikutnya tampak seperti bantal sofa hitam, tetapi dirancang untuk ditusuk dengan benda tajam. Setelah ditusuk, benda itu mulai bergetar, dan terus bergetar sampai pengguna mencabut semua benda tajam yang ditusukkan. Objek terakhir terlihat seperti kristal yang menyala ketika mulai disumpahi.

Objek 3
Objek 4

Para psikolog telah lama memperingatkan pasien bahwa membungkam atau menekan amarah itu berbahaya. Tetapi tidak jelas apakah memukul karung tinju, menyemburkan kata-kata kotor atau memukuli salah satu dari “benda-benda katarsis” ini bisa bermanfaat. Bukti ilmiah yang mendukung teori katarsis, yang merupakan keyakinan bahwa menghadapi emosi negatif lebih baik daripada mengabaikannya, dianggap cukup lemah.

Satu studi dari tahun 1999 yang diterbitkan dalam Journal of Personality and Social Psychology sengaja membuat marah para pesertanya dalam percobaan laboratorium. Para peserta kemudian dibagi menjadi dua kelompok; satu kelompok mendapat kesempatan untuk memukul karung tinju dan satu kelompok tidak melakukan apa pun. Dalam tes selanjutnya, kelompok karung tinju bertindak lebih agresif daripada kelompok kontrol.

Tetapi para peneliti menyadari bahwa tidak ada orang yang ingin marah dengan sengaja. Luria mencatat dalam sebuah wawancara dengan IEEE Spectrum bahwa orang cenderung merasa “benci” terhadap emosi negatif. Tetapi jika kita tidak punya pilihan selain marah atau sedih, mengapa tidak mengeluarkan kemarahan kita pada robot daripada manusia yang hidup dan bernafas?

“Itulah mengapa saya pikir ini bisa saja menjadi ruang yang menarik untuk objek robot: Kita tidak ingin menjadi agresif terhadap orang lain, tetapi kita sering tidak mengeluarkan energi itu ketika sedang sendiri. Barangkali nanti ada ruang yang aman bagi kita untuk mengekspresikan emosi negatif dengan menggunakan teknologi”, kata Luria.