teknologi di olimpiade tokyo 2020

Deretan Teknologi Canggih Olimpiade Tokyo 2020: Ada Sensor di Baju Atlet

129

Gelaran Olimpiade Tokyo 2020 telah resmi bergulir sejak Jumat (23/7). Tak hanya perjuangan para atlet dari seluruh dunia, penerapan teknologi olahraga canggih yang digunakan Jepang selaku tuan rumah juga menjadi sorotan.

Pada pembukaan gelaran Olimpiade Tokyo 2020 terdapat banyak teknologi canggih yang dilibatkan. Hal ini tak heran, pasalnya Jepang memang salah satu negara yang paling maju soal teknologinya.

Nah, apa saja teknologi yang dimanfaatkan Jepang dalam mendukung gelaran Olimpiade Tokyo tahun ini. Berikut deretan teknologi-teknologi canggih yang hadir di Olimipade Tokyo, Jepang.

Robot

Bukan Jepang namanya jika tidak melibatkan robot di kehidupan sehari-hari. Tak terkecuali pada Olimpiade kali ini, Jepang menyebar sejumlah robot di Bandara Haneda.

Robot tersebut sebagai pintu kedatangan para tamu asing, baik para atlet atau pengunjung lainnya. Robot-robot ini akan membantu di bidang keamanan, logistik, dan penerjemah bahasa.

Sensor di baju atlet

Kalau kalian pernah bertanya-tanya seberapa cepat pelari 400 meter bergerak, Olimpiade Tokyo 2020 bisa memberikan jawabannya.

Dalam cabang olahraga tersebut, kecepatan pelari secara real time akan ditampilkan selama siaran karena adanya sensor canggih di baju atlet.

Sensor dan kecerdasan buatan akan secara instan mendigitalkan gerakan tubuh sehingga membantu atlet untuk meningkatkan performa dan membuat keputusan yang tepat.

Pembesut jam tangan mewah asal Swiss, Omega, juga ditugaskan untuk mengumpulkan data atlet selama Olimpiade.

Sensor kecil dipasang di semua baju atlet yang mengumpulkan dan menganalisis sekitar 2.000 set data per detik, seperti kecepatan atau titik percepatan.

Kamera kecerdasan buatan

Selanjutnya, dalam cabor bola voli pantai terdapat kamera dengan teknologi kecerdasan buatan (kamera Al) yang berfungsi untuk mengukur di mana bola telah dilempar dan seberapa tinggi pemain melompat.

Teknologi analisis serupa diperkenalkan pula pada perlombaan balap sepeda, renang, dan senam.

“Teknologi kami dapat mengukur keseluruhan kinerja seorang pemain,” kata Alain Zobrist, CEO Omega Timing, dikutip dari Nikkei Asia, Senin (26/7).

Data tersebut akan dibagikan kepada atlet dan pelatih, juga bakal digunakan untuk mengembangkan program pelatihan di masa depan.

Kembang api di sekitar Stadion Olimpiade saat upacara pembukaan Olimpiade Tokyo 2020 (Ben STANSALL/AFP).

Radar canggih TrackMan

Sementara itu, perusahaan teknologi olahraga asal Denmark bernama TrackMan, berkontribusi membangun teknologi radar canggih untuk kebutuhan Olimpiade Tokyo 2020.

TrackMan mengadopsi teknologi radar yang digunakan dalam militer untuk melacak rudal dan pesawat.

Di pertandingan olahraga, perangkat TrackMan berfungsi menganalisis setiap lemparan atau pukulan para atlet.

Jepang menggunakan TrackMan dan banyak pemain di tim nasionalnya mengandalkan radar ini untuk latihan.

Hawk-Eye Innovations

Hawk-Eye Innovations, bagian dari Sony Group, menyediakan layanan Electronic Line Calling ke lebih dari 80 turnamen tenis di seluruh dunia.

Teknologi itu mampu mengurangi kesalahan wasit dengan menggunakan kamera pelacak bola berakurasi tinggi untuk mengidentifikasi apakah sebuah bola masuk atau keluar. Biasanya, teknologi ini hadir di pertandingan bulutangkis.

Energi terbarukan

Semua listrik yang digunakan di semua tempat akan bersumber dari energi angin dan Matahari untuk stadion dan wisma atlet.

Penggunaan teknologi ini sebagai komitmen yang dilanjutkan Komite penyelenggara Olimpiade Tokyo agar ajang ini ramah untuk lingkungan.

Medali dari ponsel bekas

Jauh sebelum gelaran Olimpiade resmi dimulai, publik sudah lebih dulu dibuat kagum dengan medali yang akan dibagikan kepada para atlet pemenang.

Pasalnya, Jepang sudah mengonfirmasi bahwa medali Olimpiade di negaranya terbuat dari limbah elektronik, seperti ponsel.